Tampilkan postingan dengan label INSPIRATIF EDUKASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INSPIRATIF EDUKASI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Januari 2018

GURU ZAMAN NOW WAJIB MELAKUKAN PEMBARUAN PEMBELAJARAN

GURU ZAMAN NOW WAJIB MELAKUKAN PEMBARUAN PEMBELAJARAN

I. Prinsip Pembaruan Pembelajaran
        Peran guru dilukiskan sebagai :
a. memimpin
b. membimbing
c. mendorong
d. membantu
e. membidani
f. memelihara
g. mendukung
                                                                                                                                                                                   
Jika peran-peran tersebut dilaksanakan oleh guru maka guru layak disebut sebagai pembaru dalam pembelajaran.
Menjadi guru zaman now harus memberi bentuk baru dalam hubungannya dengan anak didiknya, yakni dari bentuk ‘power relationship’ ke bentuk ‘shared relationship’ yaitu dari posisi mengontrol ke posisi kerja sama.
Dalam kurikulum 2013 guru yang diharapkan bukan lagi guru yang mampu mengontrol kelasnya tapi bagaimana agar peserta didik terlibat langsung dalam pembelajaran.

Hidup dalam era globalisasi menuntut semua umat manusia mampu merespons dua proses yang sedang terjadi,
1. Rapid pervasive change (Perubahan yang merembes dan meluber amat cepat)
2. Increasing interconnectedness (Meningkatnya saling keterkaitan antara actor-aktor globalisasi dan isu yang  menjadi perhatian mereka).
Menurut Townsend & Otero tahun 1999  Ada 5 kiat agar terjadi Effective Instruction (Pengajaran yang Efektif),
1. Pembelajaran terjadi pada puncaknya jika ekspektasi atau harapan dipusatkan pada keberhasilan
2. Rasa takut bukanlah pemicu belajar yang efektif
3. Perubahan harus diyakini sebagai sesuatu yang selalu mungkin dicapai
4. Kontrol hanyalah suatu ilusi
5. Saling tergantung (interdepedensi) merupakan kunci menuju sukses

Menurut Rogers “harapan yang tinggi” ditandai oleh adanya :
1. Ketentuan minimal mengenai “grade” atau nilai yang harus dicapai anak didik
2. Jumlah hari kehadiran siswa di kelas
3. Guru membuat perencanaan, strategi, aturan dan tindakan yang efektif

II. Gambaran Sekolah Pada Masa Mendatang
Dengan mengkaji secara saksama profil sekolah di masa depan maka guru mulai dapat membayangkan  bagaimana pembaruan pembelajaran sebaiknya dilakukan. Bagaimana guru mereposisi perannya sebagai pendidik agar tidak menjadi guru yang absolit atau guru usang. Jika guru sudah absolit berarti guru ditinggalkan oleh perubahan.

Menurut Townsend & Otero tahun 1999, pembaruan pendidikan dan pembelajaran hendaknya didudukkan di atas empat pilar, antara lain :
1. Pendidikan untuk kelangsungan hidup
     1). Literasi dan numerasi
     2). Kemampuan teknologi
     3). Keterampilan komunikasi
     4). Kemampuan dalam menyusun dan mengembangkan rencana
     5). Keterampilan berpikir kritis
     6). Adaptability (penyesuaian diri).
2. Pemahaman terhadap kedudukan atau tempat kita di dunia
     1). Tukar menukar gagasan
     2). Pengalaman kerja dan sikap wiraswasta
     3). Kesadaran dan apresiasi terhadap budaya
     4). Pengembangan social, emosional, dan fisikal
     5). Kemampuan berkreasi
     6). Berwawasan luas dan berpandangan terbuka
     7). Kesadaran bahwa ada hak seseorang untuk menentukan pilihannya.
3. Pemahaman tentang hakikat masyarakat, yaitu bagaimana diri kita dan lainnya saling terkait
     1). Kemampuan untuk bekerja sama dalam suatu tim
     2). Kajian kewarganegaraan
     3). Pengabdian masyarakat
     4). Pendidikan masyarakat
     5). Kesadaran global
     6). Pengembangan aset siswa (misalnya kemampuan, kecerdasan, hobi yang telah dimiliki siswa)
4. Pemahaman terhadap tanggung jawab diri, yaitu memahami bahwa setiap anggota masyarakat dunia membawa
     Tanggung jawab dan hak-haknya masing-masing
     1). Komitmen terhadap pengembangan diri melalui proses belajar seumur hidup (Long Live Education)
     2). Pengembangan sistem nilai diri
     3). Kemampuan kepemimpinan
     4). Komitmen terhadap pembangunan masyarakat dan perkembangan global
     5). Komitmen terhadap kesehatan diri dan kesehatan masyarakat.

III. Riset Tentang Pembelajaran Yang Efektif
     Pembaruan pembelajaran selain selain dilandasi oleh prinsip yang filosofis, haruslah juga dilandasi oleh temuan-temuan empiris yaitu riset yang memusatkan kajiannya pada sekolah. Scheerens dalam Townsend & Otero 1990 mengidentifikasi empat kategori besar riset persekolahan,
1. Mengkaji outcomes pendidikan
2. Mengkaji fungsi produksi pendidikan
3. Mengkaji sekolah yang efektif
4. Mengkaji intruksional yang efektif

IV. Sekolah Yang Efektif Dan Berkembang
      Menurut BJ Caldwell & JM Spinks tahun 1988, ciri-ciri sekolah yang efektif dan berkembang adalah :
     1. Kurikulum, adanya tujuan pendidikan yang akan dicapai
     2. Pengambilan keputusan, Guru dan masyarakat dilibatkan dalam pengambilan keputusan
     3. Sumber daya, adanya guru yang capable dan bermotivasi tinggi
     4. Hasil belajar, adanya tingkat drop out yang rendah tingkat melanjutkan yang tinggi
     5. Kepemimpinan, adanya kepala sekolah yang responsive dan supportive terhadap kepentingan guru
     6. Iklim, adanya nilai etika moralitas dan etos kerja serta saling menghargai dan mempercayai.

Sumber Pustaka :

Pembaharuan Pembelajaran Oleh Suprayekti, dkk.

Rabu, 13 Desember 2017

TOKOH PENDIDIKAN NONFORMAL DAN INFORMAL

TOKOH PENDIDIKAN NONFORMAL DAN INFORMAL

NO
NAMA TOKOH
RESUME TEORI
1
Malcolm Shepherd Knowles (Amerika Serikat, 24 Agustus 1913 – 27 Nopember 1997)
“Bahaya terbesar bagi kelangsungan peradaban hidup manusia bukanlah perang atom, pencemaran lingkungan, ledakan penduduk, deplesi sumber daya alam,  atau krisis kontemporer lainnya, tetapi penyebab yang melandasi adalah cepat usangnya kehidupan manusia. Satu-satunya harapan sekarang tampaknya adalah crass program untuk melengkapi kembali generasi orang dewasa dengan kompetensi yang dibutuhkan, sehingga bisa berfungsi secara memadai dalam kondisi perubahan zaman yang terus berputar. Hal ini adalah kebutuhan yang paling mendalam dan tantangan luar biasa bagi pendidikan orang dewasa pada masyarakat modern.”
Tahun 1960 Knowles mulai menerapkan metode pendidikan informal dalam suasana sistem  akademis formal di Universitas Chicago. Knowles mulai memperkenalkan istilah “andragogi” sebagai sebuah teknologi baru untuk belajar orang dewasa.
 Ada 7 langkah proses andragogi :
1. Menetapkan iklim pembelajaran kooperatif
2. Menciptakan mekanisme untuk perencanaan bersama
3. Mengatur diagnosis kebutuhan dan kepentingan pelajar
4. Memungkinkan perumusan tujuan belajar berdasarkan
    Kebutuhan dan kepentingan diagnosis
5. Mendesain aktivitas untuk mencapai tujuan
6. Melaksanakan desain dengan memilih metode, materi, dan
    Sumber daya
7. Mengevaluasi kualitas pengalaman belajar sambil
    Mendiagnosis kembali kebutuhan untuk belajar lebih lanjut.
2
Ivan Illich (Austria, 04 September 1926 – 02 Desember 2002)


“Belajar harus lebih banyak dilakukan di rumah, di kantor, dan di dapur, dalam konteks dimana pengetahuan dikerahkan untuk memecahkan masalah dan untuk menambah nilai kehidupan.”
Pendidik harus dibebaskan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan ide-ide mereka tanpa terpaku pada kurikulum baku dan akan menjadi lebih efektif.”
Ivan Illich adalah seorang yang anti kelembagaan, dalam bukunya Deschooling Society (1971), ia menulis kritik pelanggaran sistem pendidikan menurutnya sekolah hanya membuat orang bodoh.
Menurut Ivan Illich ada 4 pendekatan berbeda yang memungkinkan siswa untuk mendapatkan akses sumber daya pendidikan :
1. Referensi pelayanan pendidikan
2. Pertukaran kecakapan (Skill exchange)
3. Pasangan sebaya (Peer-matching)
4. Referensi pelayanan untuk pendidik.

3
Paulo Freire (Brazil,
19 September 1921 – 02 Mei 1997)
Dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire menuliskan  “Pendidikan adalah sebuah jalan untuk menuju pembebasan permanen, melalui 2 tahap :
1. Dengan pendidikan orang menjadi sadar dari penindasan
     yang mereka alami, dan ia mulai mengubah keadaan.
2. Dibangun berdasarkan tahap pertama dan merupakan proses
     permanen aksi pembebasan budaya.



4
Carl Ransom Rogers (Amerika Serikat,
 08 Januari 1902 – 04 Februari 1987)
Dalam bukunya The Freedom to Learn, Carl Ransom Rogers menuliskan 6 Prinsip Dasar Humanistis :
1. Manusia mempunyai kemampuan belajar secara alami
2. Belajar yang efektif apabila materi pelajaran mempunyai
     relevansi dengan apa yang dirasakan siswa
3. Belajar yang menyangkut perubahan pada diri siswa
     cenderung dianggap mengancam dan ditolaknya
4. Belajar yang bermakna adalah belajar yang melibatkan siswa
5. Proses kegiatan belajar  mengajar akan lancar bilamana siswa
     dilibatkan dalam proses pengajaran itu sendiri
6. Kepercayaan diri, kemerdekaan dan kreativitas lebih mudah
     dicapai jika siswa dibiasakan untuk introspeksi diri dengan
     cara mengkritik dirinya sendiri.
Menurut Carl Ransom Rogers peran guru sangat fundamental untuk menentukan dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh para siswa, sehingga guru dituntut Aktraktif, Kreatif, dan Fasilitatif. Adapun ciri guru fasilitatif menurut Carl Ransom Rogers, sebagaimana yang telah diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 adalah :
1. Respek terhadap perasaan siswa
2. Melibatkan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang
     Direncanakan
3. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
4. Selalu menghargai pendapat siswa
5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
6. Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa
7. Ramah dan sopan terhadap siswa.

Menurut Carl Ransom Rogers belajar dianggap berhasil jika peserta didik mampu memahami dirinya sendiri serta lingkungannya.
 
5
Antonio Gramsci (Italy,
22 Januari 1891 -  27 April 1937)
“Semua orang adalah intelektual, tetapi tidak semua manusia memiliki fungsi intelektual. Artinya adalah bahwa setiap orang mempunyai akal dan menggunakannya, tetapi tidak semua intelektual dengan fungsi social, kreativitas berpartisipasi aktif dalam kehidupan praktis.”
Arti penting pendidikan informal bagi Antonio Gramsci terletak pada 3 aspek :
1. Dengan penjelasan dari pengertian hegemoni memberikan
     kita dengan cara datang untuk memahami konteks dimana
     sebenarnya fungsi pendidik informal dan kemungkinan kritik
     serta transformasinya
2. Keprihatinan terhadap peran intelektual organic yang
     memperdalam pemahaman kita tentang posisi pendidik
     informal
3. Minatnya di sekolah dan lebih banyak lagi bentuk-bentuk
     pendidikan tradisional yang menunjuk pada tidak perlunya
     mengabaikan bentuk-bentuk yang lebih tradisional.








6
Jean-Jacques Rousseau (Francis, 28 Juni 1712 – 02 Juli 1782)
Dalam bukunya The Social Contract tahun 1762, JJ Rousseau mengatakan bahwa manusia itu memiliki kebebasan sesuai dengan emosinya masing-masing. Dan hal ini merupakan sebuah ekspresi keyakinan bahwa kita rusak disebabkan oleh ulah masyarakat.
Dalam bukunya yang lain A Discourse on Political Economy dan Considerations for the Government of Poland, kita mendapat gambaran bahwa Pendidikan Umum adalah untuk kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Manusia harus belajar untuk hidup lebih layak, sebagaimana pada saat kita lahir mengambil bagian hak-hak kewarganegaraan kita, pada saat itu seharusnya
Menjadi titik awal pelaksanaan tugas kita sebagai makhluk pedagogik yang mempunyai kebebasan untuk belajar. Alam akan mengajarkan kita bagaimana kita seharusnya belajar dan berperilaku sebagai makhluk hidup yang mempunyai berbagai kelebihan bahkan nyaris sempurna. Alam adalah guru yang baik sekaligus kawan bagi umat manusia.

7
Jerome Seymour Bruner (Amerika Serikat, 01 Oktober 1915 – 05 Juni 2016)
Dalam bukunya The Process of Education tahun 1960 JS Bruner menggambarkan tema-tema kunci sebagai berikut :
1. Peran struktur dalam pembelajaran dan bagaimana hal itu
     dijadikan pusat mengajar
2. Kesiapan untuk belajar
3. Berfikir intuitif dan analitis
4. Motif untuk belajar
     Di zaman peningkatan spectatorship, motivasi belajar harus benar-benar dijaga dari kejenuhan, mereka sebisa mungkin harus bersemangat dengan melakukan inovasi belajar dari apa yang bisa dipelajari dan mereka harus tetap bebas dan beragam dalam ekspresi.
     Kami mengajarkan subjek bukan untuk menghasilkan perpustakaan hidup tentang hal itu, melainkan supaya siswa berpikir secara matematis bagi dirinya sendiri , untuk mempertimbangkan hal-hal sebagai seorang sejarawan dan untuk mengambil bagian dalam proses mendapatkan pengetahuan. Karena pengetahuan adalah sebuah proses bukan produk.

8
Johan Heinrich Pestalozzi (Swiss, 12 Januari 1746 – 17 Februari 1827)
Apa arti penting pendidik informal sekarang ?
1. Ada keprihatinan terhadap keadilan social dan komitmen
     untuk bekerja dengan mereka yang telah menderita dalam
     masyarakat
2. Tidak dapat diragukan lagi bahwa dalam setiap ruang tamu,
     keluarga selalu berkumpul yang merupakan unsur dasar
     pendidikan bagi seluruh umat manusia
3. Ada kekhawatiran dengan keseimbangan antara unsur-unsur
     kepala, tangan, dan hati
4. JH Pestalozzi adalah contoh praktisi reflektif klasik, yang
     sudah banyak terlibat dengan beberapa tindakan dan
     eksperimen
5. Berusaha menggabungkan antara pendidikan dan pekerjaan.
     sekolah menjadi unit produksi sehingga anak-anak bisa
     membiayai belajar mereka sendiri. Selain itu sekolah dapat
     bebas dari campur tangan Negara.
6. Berjuang melawan tirani metode dan “kebenaran”.


9
Maria Montessori (Italy,
31 Agustus 1870 – 06 Mei 1952)
Taman anak-anak atau rumah anak-anak atau dalam bahasa Italy Casa dei Bambini merupakan bagian dari pembangunan kembali daerah kumuh, yang dirancang untuk menyediakan yang ramah bagi anak-anak untuk hidup dan belajar.
Penekannya adalah pada pengembangan penentuan nasib sendiri (self determination) dan realisasi diri (self realization) anak-anak.
Pendidik taman anak-anak adalah penjaga lingkungan hidup.
Fokus pada realisasi diri melalui kegiatan mandiri, kekhawatiran dengan sikap, dan berfokus pada pendidik  sebagai penjaga lingkungan hidup (dan memanfaatkan kekuatan ilmiah mereka observasi dan refleksi) semua memiliki beberapa gema dalam karya pendidik informal.
10
Howard Gardner
 (Amerika Serikat,
11 Juli 1943 – Sekarang)
Dalam bukunya Frames of Mind, Howard Gardner memandang kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi nyata.
Adapun kecerdasan ganda (multiply intelegent) meliputi :
1. Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence)
2. Kecerdasan Logika-Matematika (Logical-mathematical
     Intelligence)
3. Kecerdasan music (Musical Intelligence)
4. Kecerdasan Kinestetik (Bodily-Kinesthetic Intelligence)
5. Kecerdasan Intelejen (Spatial Intelligence)
6. Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence).

Menurut Howard Gardner ada 4 syarat khusus yang harus dipenuhi oleh setiap kecerdasan supaya bisa dimasukkan kedalam teorinya :
1. Setiap kecerdasan dapat dilambangkan (matematika ada
     Lambing, music lambangnya not, kinestetik lambangnya
     Bahasa non verbal)
2. Setiap kecerdasan mempunyai riwayat perkembangan
     (kecerdasan paling awal muncul adalah Musik lalu Logis-
     Matematis)
3. Setiap kecerdasan rawan terhadap cacat akibat kerusakan
     atau cedera pada wilayah otak tertentu (orang dengan
     kerusakan pada otak kiri/Lobus Frontal, tidak mampu
     berbicara atau menulis dengan mudah tapi mampu menyanyi
     melukis dan menari dengan baik, Orang dengan kerusakan
     pada otak kanan bagian Lobus Temporal,kesulitan di bidang
     musik tapi mampu bicara, membaca, dan menulis dengan
     baik, orang dengan kerusakan pada otak kanan bagian Lobus
     Oksipital akan kesulitan dalam mengenali wajah,
     membayangkan atau mengamati detail visual. Thomas
     Amstrong, 1999, hal. 8).
4. Setiap kecerdasan mempunyai keadaan akhir berdasar nilai
     budaya (tidak harus matematis-logis, spatial, atau harus
     music tapi tergantung pada masing-masing budayanya
     misalnya kemampuan naik kuda, melacak jejak, dll dalam
     budaya tertentu itu sangat penting).

Sumber Pustaka :
Pendidikan Nonformal dan Informal

Oleh Elih Sudiapermana

Minggu, 19 November 2017

SEJARAH PERKEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN INDONESIA

SEJARAH PERKEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN INDONESIA

NO
TAHUN
NAMA KURIKULUM
URAIAN
1
1617
Kurikulum Belanda
Saat itu Indonesia disebut Hindia Belanda.Kurikulum pendidikan yang diterapkan  mengalami berbagai perubahan. Mulai dari mata pelajaran wajib yang diajarkan, hingga munculnya kurikulum pendidikan baru yang dilatarbelakangi oleh kebutuhan rakyat yang saat itu masih buta calistung (baca, tulis, hitung)

2
1947
Leer Plan
(Rentjana Peladjaran)
Kurikulum ini baru dilaksanakan pada tahun 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum pendidikan di masa ini diawali dari Kurikulum 1950. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya.

3
1964
Kurikulum Pancawardhana
Kuirikulum ini dilatar belakangi oleh adanya keinginan pemerintah  supaya rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang sekolah dasar. pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana :
1. pengembangan moral,
2. Kecerdasan
3. emosional/artistik
4. Keprigelan
5. jasmani.
# keprigelan kalau jaman sekarang kemungkinan sama dengan ketrampilan.
4
1968
Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila Sejati :
 1. Kuat
 2. Cerdas
 3. Terampil
 4. memiliki moral dan budi pekerti luhur

5
1973
Kurikulum PPSP
Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP)
Pada tahun 1973 pemerintah mengadakan PPSP di seluruh IKIP Negeri di Indonesia, sebagai sekolah laboratorium. Dengan adanya PPSP, sebelum kebijakan di bidang pendidikan didesiminasikan secara nasional, terlebih dahulu diterapkan atau dirintis secara terbatas, sebagai pilot project.

5
1975
Kurikulum 1975
Lahirnya kurikulum 1975 bertujuan untuk mencapai tujuan instruksional umum, tujuan instruksional khusus, dan berbagai rincian lainnya. Adapun ciri-ciri lebih lengkap kurikulum ini adalah sebagai berikut:
 1). Berorientasi pada tujuan.
 2). Menganut pendekatan integrative.
 3). Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.
 4). Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).
 5). Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).

6
1984
Kurikulum 1984
Pada kurikulum 1984, siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL).

7
1994
Kurikulum 1994
Menekankan pada azas kebermaknaan. Pada kurikulum 1994, pendidikan dasar diwajibkan menjadi 9 tahun (SD dan SMP). Berdasarkan strukturnya, kurikulum 1994 berusaha menyatukan kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1975 dengan pendekatan tujuan dan kurikulum 1994 dengan  pendekatan proses.
Kurikulum 1994 disebut juga (oleh para pelaku pendidikan) Kurikulum Super Padat.


8
1999
Kurikulum 1999
Kurikulum 1999 digunakan untuk menyempurnakan Kurikulum 1994, merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya, terutama kurikulum 1975 dan 1984. Karena perpaduan antara tujuan dan proses belum berhasil maka banyak kritik bermunculan dikarenakan oleh beban belajar siswa yang dinilai terlalu berat, dari muatan nasional sampai muatan lokal.

9
2004
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang  bermakna,
(2) keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya
Tujuan yang ingin dicapai menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
 Jadi dengan KBK ini ditekankan agar siswa yang mengikuti pendidikan di sekolah memiliki kompetensi yang diinginkan.

10
2006
KTSP
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
b.      Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

11
2013
Kurikulum 2013
Konsep Kurikulum 2013 ternyata tidak membawa sesuatu yang baru. Kurikulum yang menitik beratkan pada keaktifan siswa belajar ini nyaris sama dengan kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang telah puluhan tahun lalu digunakan.
Kurikulum model KTSP memberi peluang bagi guru dengan harapan model KTSP dapat menjadi pedoman bagi  guru dalam menyusun silabus yang sesuai dengan kondisi sekolah dan potensi daerah masing-masing. Sedangkan kurikulum 2013 jelas tidak menghargai otonomi guru, sekolah, dan daerah. Penetapan Silabus dari pusat juga bisa membuat guru tidak kreatif.

12
2020
Kurikulum
Duridupul
Maaf Pembaca Yang Budiman, Kurikulum tahun 2020 hanya khayalan penulis saja, mudah2an tidak terwujud, Amiiin !